SKRIPSI
FORMULASI COOKIES TEPUNG LABU KUNING (Cucurbita moschata Duch.) DAN TEPUNG KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) SEBAGAI ALTERNATIF MAKANAN SELINGAN PASIEN DIABETES MELITUS
FORMULASI COOKIES TEPUNG LABU KUNING (Cucurbita moschata Duch.) DAN TEPUNG KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) SEBAGAI ALTERNATIF MAKANAN SELINGAN PASIEN DIABETES MELITUS
Maisa Aprilia¹, Rachmawati²
ABSTRAK
Latar Belakang : Diabetes Melitus adalah penyakit yang terjadi karena pankreas tidak
menghasilkan cukup insulin. Penderita DM tipe 2 umumnya mempunyai gejala seperti polyuria, polydipsia, dan polyphagia, untuk mengatasi gejala lapar yang berlebihan (polyphagia) pada penderita DM, maka dibutuhkan pemenuhan kebutuhan melalui makanan cemilan atau makanan selingan. Kue kering atau lebih dikenal dengan cookies merupakan salah satu jenis produk bakery yang mudah diterima oleh semua kalangan dan sering dijadikan sebagai cemilan. Agar dihasilkan satu produk cookies yang baik, maka
salah satu bahan makanan yang dapat digunakan yaitu yang memiliki indeks glikemik rendah seperti labu kuning dan kacang merah. Kandungan serat pangan yang tinggi dalam bentuk pektin dapat mengontrol level serum insulin dan menurunkan tingkat gula darah.
Metode Penelitian : Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2022. Uji organoleptik
menggunakan metode hedonik dengan parameter warna, rasa, aroma, dan tekstur dilakukan di
laboratorium Teknologi Pangan Jurusan Gizi yang dilakukan oleh panelis semi terlatih. Uji sifat
kimia meliputi kadar air, abu, karbohidrat, protein, lemak, dan serat dilakukan di laboratorium Analisis Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan percobaan RAL dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan aplikasi SPSS menggunakan ANOVA dan uji lanjut Duncan’ multiple test.
Hasil : Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa formulasi cookies dengan penambahan tepung labu kuning 50% dan tepung kacang merah 50% (F2) lebih disukai panelis untuk parameter rasa, aroma, dan tekstur cookies, sedangkan pada warna cookies panelis lebih menyukai formulasi cookies dengan penambahan tepung labu kuning 75% dan tepung kacang merah 25% (F3).
Kesimpulan : Penambahan tepung labu kuning dan tepung kacang merah dengan proporsi yang berbeda berpengaruh nyata terhadap sifat organoleptik pada parameter warna, rasa, aroma, dan tekstur cookies (p < 0,050) dan berpengaruh nyata terhadap sifat kimia cookies pada analisis kadar serat (p < 0,050). Hasil uji kimia menunjukkan bahwa cookies telah memenuhi standar SNI cookies diabetes.
Saran : Diharapkan dapat dilakukan penelitian lanjutan untuk sifat kimia dan daya simpan terhadap formulasi cookies dengan penambahan tepung labu kuning dan tepung kacang merah.
Kata Kunci : Cookies, Diabetes Mellitus, Tepung Labu kuning, Tepung Kacang Merah, Uji Organoleptik, Uji Kimia
Tidak tersedia versi lain